Hari ini saya memasuki beberapa desa di Nias Selatan. Desa Bawogosali, Hilisimetano dan Botohilitano. Selalu dan selalu, saya usahakan agar setiap hari saya dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang saya alami hari demi harinya.
3 desa yang saya datangi masing-masing dapat bantuan dana rehabilitasi dan rekonstruksi dari ADB. Seperti biasa, saya bersama tim melakukan inspeksi dan menerima “curhatan” dari orang-orang desa yang dapat bantuan. Banyak sekali keluhan. Keluhan karena biayanya dipotong lah, keluhan karena dipaksakan membeli ini itulah, keluhan dananya kurang lah, dan banyak lagi keluhan-keluhan lain. Kemudian saya cocokkan dengan berita-berita dan isu lain dari berbagai sumber. Ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan dari kejadian ini:
1. Satu sisi dari banyak sisi, saya merasa miris sekali melihat orang-orang yang kekurangan ini. Sudah kekurangan dana malah dipotong lagi dananya oleh ini dan itu. Kejam sekali orang yang memotong dana bantuan untuk orang yang sangat membutuhkannya sekali. Berdosa sekali orang itu mengambil bagian/ hak orang miskin.
2. Pihak pemberi bantuan/ yang mengucurkan bantuan dalam hal ini yang tadi saya sebut sebagai “pemotong” dana bantuan tidak sepenuhnya salah. Kesalahan kadang terjadi di pihak penerima bantuan/ orang-orang desa tersbut yang terkadang tidak menggunakan uang bantuan untuk membangun rumahny, malah digunakan untuk kepentingan lain yang bersifat lebih pribadi. Ini masalah mental dan sikap menurut saya.
3. Saya miris juga dengan orang-orang desa/ terpencil di nias ini. Mereka pada umumnya hanya menunggu bantuan, menunggu, dan menunggu… Pada umumnya kondisi ini terjadi di desa nias walaupun tidak sedikit masyarakat nias yang tidak tergantung dengan bantuan dari luar. Mereka secara bergotong royong membangun desa mereka pasca gempa dan tsunami. Ini yang perlu dijadikan contoh oleh desa-desa lain.
Intinya dalam kehidupan ini, dalam realitas kehidupan yang sebenarnya, mental, sikap, kedewasaan emotional, wawasan dan keterbukaan pikiran kita akan sangat menentukan keberlangsungan hidup orang lain, dan secara otomatis terhadap diri kita sendiri.
Saya menyadari bahwa berkomunikasi dengan orang, banyak membaca, menerima masukan orang lain, cara memberi masukan orang lain yang bisa dirangkum dalam EQ, IQ dan SQ sangat penting. Sangat penting. Agar kita bisa menghargai orang lain dan diri kita sendiri.
Salam. sorake, 15 januari 2009
RS
Recent Comments