Menerima Apa Adanya
Terinspirasi dari sebuah artikel Kompas terbitan hari ini sabtu, 18 Oktober 2008, yang ditulis oleh Gede Prama yang berjudul “Nur dari TImur“. Mengungkap realita sisi kehidupan dilihat dari sisi sederhana tapi dalam. Dikatakan bahwa permasalahan hidup ini adalah ketika kita melawan terhadap apa yang terjadi kepada kita. Melawan apa yang seharusnya kita lakukan. Melawan yang seharusnya telah menjadi ketentuan dan kewajiban kita. Kita cenderung ingin keluar dari apa yang kita miliki saat ini. Cenderung ingin memiliki lebih dari apa yang kita miliki sekarang. Cenderung memikirkan sisi lebih jika kita memiliki ini dan itu sehingga permasalahan yang sebenarnya ada di hadapan kita tak kunjung sirna. Padahal belum tentu apa yang kita inginkan akan berakibat baik bagi kita, atau mungkin malah sebaliknya. Jika saya analogikan, katakan seseorang di bumi ini akan menempuh perjalanan dari A-Z. Ketika dia tiba di C dia berpikir jika dia di G sekarang dia akan lebih baik dan segala sesuatu akan terpenuhi. Tetapi di balik itu dia akan kehilangan D, E, dan F. Dimana mungkin inilah nilai/ spirit yang harus kita lalui sehingga ketika tiba di titik G kita akan lebih siap menjalani huruf-huruf selanjutnya.
Dengan menerima apa adanya kita akan lebih siap. Menerima yang terjadi saat ini, menganalisis, menjabatnya lebih erat, mempelajarinya lebih dalam, dan mencarikan solusi2 nyata agar berbuah manis di kemudian hari. Seperti seorang peternak lele di daerah Jakarta Selatan yang memanfaatkan sisa genangan banjir yang kini berbuah manis dan bisa menambah pengahasilan hidupnya. Apa yang terjadi jika dia hanya mengeluh bahwa daerah tempat tinggalnya banjir. Mungkin nasibnya tidak akan berubah, malah mungkin akan lebih buruk.
Dari hal ini dapat diambil kesimpulan bahwa apa yang terjadi kepada kita adalah yang terbaik untuk saat ini. Yang harus kita lakukan adalah mensyukuri segala nikmat itu dan mengoptimalkannya agar berguna. Jika yang kita dapat adalah masalah, itu tandanya kita masih dipercaya dan sebenarnya mampu untuk menyelesaikan permasalahan itu. Masalah dapat menjadi berkah jika kita jeli melihatnya, atau mungkin jadi musibah jika kita terus mengeluh dan melawan untuk keluar dan tidak menerima semua ini.
“Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Dia memberi apa yang kita butuhkan”
“Bersyukurlah, maka akan Ku tambah nikmat-Ku…”
bagaiman dengan kita?? apakah kita sudah, akan, atau belum??
Recent Comments