tidak ada yang sia-sia
Diambil dari blog saya sebelumnya. Sengaja saya pindahkan agar semuanya terfokus pada satu blog dan semoga bisa memberi sedikit hikmah dari pengalaman.
30 Januari 2008,
Tidak sengaja, tadi pagi ketika saya mau berangkat ke kampus sambil mengendarai motor, tiba-tiba muncul pemikiran atau entah ada dialog di dalam diri yang terjadi. Ketika itu saya melihat motor. Saya lihat lampu bagian belakang yang berwarna merah dan menyala ketika motor depan ngerem. Terus digas lagi. Kadang harus berbelok-belok untuk dapat lebih cepat dan mendahuli yang lain. Harus siap rem kalo ada pemberhentian mendadak, makanya remnya harus pakem. Harus liat kanan-kiri. Ada yang buru-buru, ada juga yang nyantai. Ada yang mogok karena kehabisan bensin dan saya melihat juga ada sebagian motor yang sedang diperbaiki. Ada juga motor nyalip kendaraan lain dengan resiko yang tidak kecil, bisa saja saat itu terjadi kecelakaan. Dan masih banyak lagi…
Dari hal diatas saya mulai berpikir bahwa hidup dan ilmu hidup justru sebagian besar merupakan bentuk analogi dari kehidupan yang terjadi. Dari motor diatas saya pikir tidak jauh dengan kondisi manusia. Ya, kondisi saya sebagai manusia. Yang harus bisa memiliki “rem” jika dihadapkan pada hal-hal yang tidak baik. Menahan rasa pada hal-hal yang tidak bermanfaat dan lebih terjun pada hal yang justru memberi manfaat. Harus menyiapkan “rem pakem” ketika bahaya yang lebih besar dan tiba-tiba melanda diri. Saya juga harus “berbelok-belok” untuk mendapatkan sesuatu. Melakukan ini itu. Mengorbankan ini dan itu. Tak sedikit dan menghabiskan rasa. Ketika melakukan sesuatu pun harus melihat kanan-kiri apakah keluarga, teman, tetangga, sahabat-sahabat saya terganggu atau tersakiti dengan apa yang saya lakukan. Dalam pencapaian, itupun tergantung saya. Mau cepat atau lambat dalam mencapai tujuan. Mau ngegas lagi? Atau ngerem dan tidak pernah ngegas lagi? Atau ngegas lagi tapi hajar sini hajar sana? Semua tergantung saya sebagai pengendara motor. Dan terkadang saya juga perlu “bensin”, coz’ sometimes we need a break for a while.. Saya rasa saya perlu hal itu dan jika kondisi saya sudah fatal saya butuh memasuki “bengkel” untuk kembali bekerja.
Ya, itulah hidup. Semuanya sudah tergambar jelas dihadapan mata. Dalam sebuah buku dikatakan. “orang yang paling beruntung adalah orang yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian”
Bagaimana dengan teman-teman??
Semoga bermanfaat…..
Recent Comments